Selasa, 03 April 2012

jawaban UTS ICT
1. Perkembangan ICT for Learning dan sumbangsihnya?
perkembangan teknologi informasi terutama di Indonesia semakin berkembang. Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Dalam dunia pendidikan perkembangan teknologi informasi mulai dirasa mempunyai dampak yang positif karena dengan berkembangnya teknologi informasi dunia pendidikan mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Banyak hal yang dirasa berbeda dan berubah dibandingkan dengan cara yang berkembang sebelumnya. Saat sekarang ini jarak dan waktu bukanlah sebagai masalah yang berarti untuk mendapatkan ilmu, berbagai aplikasi tercipta untuk memfasilitasinya. Di Indonesia yang notabenenya sebagai negara berkembang dimana ketersediaan infrastruktur komunikasi yang masih minim mengakibatkan kesempatan setiap orang untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan menjadi terbatas. Ketersediaan infrastruktur ini sangat terasa di daerah-daerah yang proses memperoleh informasinya masih terbatas. Hal ini dikarenakan di Indonesia penyebaran teknologi informasi dan komunikasi belum merata, sekarang ini hanya di kota-kota besar sajalah yang sudah dengan mudah menikmati dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Dengan demikian perkembangan pendidikan pun menjadi terhambat dan juga tidak merata.
Salah satu wadah yang dirasa paling berperan dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia saat ini adalah internet. Di Indonesia terutama yang berada di kota-kota besar sudah banyak masyarakat yang mempunyai akses internet, sehingga pemanfaatan internet sebagai salah satu media pembelajaran dan pencarian informasi dan pengetahuan dapat lebih maksimal walaupun akses internet di Indonesia belum sepenuhnya dapat dirasakan semua orang.
Informasi melalui media internet, bisa menjadi salah satu kunci untuk membuat dunia pendidikan di Indonesia mempunyai standar yang sama dengan negara lain. Dengan menggunakan media internet, pemerintah dan institusi pendidikan sudah mulai menerapkan pola belajar yang cukup efektif untuk diterapkan bagi masyarakat yang memiliki kendala dengan jarak dan waktu untuk mendapatkan informasi terutama informasi dalam dunia pendidikan.
sumbangsihnya dalam pendidikan: 
ICT mempunyai andil ynag cukup besar dalam upaya peningkatan kualitas, target pemerataan ddalam dunia pendidikan diharapkan bisa lebih mudah dicapai. Perubahan kurikulum dan kebijakan depdiknas tidak bisa dilepaskan dari sikap kritis dan tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Tentunya pendidikan berkualitas akan bisa tercapai jikpara tenaga pengajar menguasai ICT. Ironisnya dalam realita dilapangan tidak sedikit diantara mereka yang mengalami kesulitan karena keterbatasan peralatan yang dimiliki. Dengan adanya program pemerintah seperti internet masuk desa, jardiknas itu semua dimaksudkan agar masyarakat luas dapat mengakses internet.
2. Jelaskan perbedaan dari
a. Media belajar: Dalam media pembelajaran terdapat dua unsur yang terkandung , yaitu (a) pesan atau bahan pengajaran yang akan disampaikan atau perangkat lunak, dan (b) alat penampil atau perangkat keras. Sebagai contoh  guru akan mengajarkan  bagaimana urutan gerakan melakukan sholat.
  b. Sumber belajar: segala informasi pembelajaran dapat diperoleh dari guru tersebut. Siswa, siswa memiliki sejumlah variasi aktivitas belajar, pengalaman belajar, pengetahuan dan keterampilan, maka dalam konteks tertentu apa yang terdapat pada diri siswa apat dijadikan sebagai sumber belajar dalam mempelajari suatu pengalaman-pengalaman belajar yang baru.
Sumber belajar pada dasarnya banyak sekali baik yang terdapat di lingkungan kelas, sekolah, sekitar sekolah bahkan di masyarakat, keluarga, di pasar, kota,desa, hutan dan sebagainya. Yang perlu dipahami dalam hal ini adalah masalah pemanfaatannya yang akan tergantung kepada kreativitas dan budaya mengajar guru atau pendidika itu sendiri.
c. Alat peraga: Kata kunci dalam memahami alat peraga dalam konteks pembelajaran adalah Nilai Manfaat , dalam arti segala sesuatu  alat yang dapat menunjang keefektifan dan efesiensi penyampaian, pengembangan dan pemahaman informasi atau pesan pembelajaran.  Ada istilah lain dari alat  peraga ini, diantaranya sering disebut sebagai sarana belajar.
Sebagai ilustrasi, misalnya Pak Budi akan mengajarkan bagaimana gambar dalam televisi  bisa terlihat di layar, maka Pak Budi membawa televisi ke kelas, kemudian ia membukanya di depan kelas, kemudian menjelaskan satu-persatu fungsi dari masing-masing komponen televisi tersebut kepada siswa sehingga siswa memahami kenapa gambar terlihat pad alayar televisi. Dalam ilustrasi tersebut kedudukan televisi adalah sebagai alat peraga , bukan sebagai media.
3. Kerucut pengalaman menurut teori Edgardale
Edgar Dale mengemukakan tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) sebagaimana tampak dalam gambar 1 berikut ini :
Kerucut Dale
Gambar 1. Kerucut Pengalaman Dale
Dari gambar tersebut dapat kita lihat rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, yang merentang dari yang bersifat kongkrit ke abstrak, dan tentunya memberikan implikasi tertentu terhadap pemilihan metode dan bahan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran
Pemikiran Edgar Dale tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual. Kerucut Pengalaman Dale telah menyatukan teori pendidikan John Dewey (salah satu tokoh aliran progresivisme) dengan gagasan – gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa itu.
 4. Proses pembelajaran bagi masyarakat Indonesia yang tertinggal
pendidikan di Indonesia mulai mengalami kemerosotan. Beberapa faktor yang memicu terjadinya kemerosotan pendidikan di Indonesia antar lain; generasi  penerus bangsa itu sendiri sebagai pelaku / pemeran utama yang menerima pendidikan, tenaga pengajar sebagai pembimbing dalam dunia pendidikan, fasilitas-fasilitas sebagai penunjang kegiatan kependidikan, peranan pemerintah dalam hal pengembangan kualitas pendidikan. Kali ini izinkan saya untuk sedikit mengulas dan sedikit berpendapat mengenai keadaan pendidikan di Indonesia. Mengapa pendidikan Indonesia tergolong masih rendah. Bahkan saya pernah membaca di media online bahwa Indeks Pembangunan Pendidikan Indonesia tergolong masih rendah.
Berikut ini sedikit cuplikan berita yang bersumber dari kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks pembangunan pendidikan untuk semua atau education for all di Indonesia menurun. Jika pada 2010 lalu Indonesia berada di peringkat 65, tahun ini merosot ke peringkat 69.
Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/201) waktu setempat, indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia.
EDI dikatakan tinggi jika mencapai 0,95-1. Kategori medium berada di atas 0,80, sedangkan kategori rendah di bawah 0,80.
Global Monitoring Report dikeluarkan setiap tahun yang berisi hasil pemonitoran reguler pendidikan dunia. Indeks pendidikan tersebut dibuat dengan mengacu pada enam tujuan pendidikan EFA yang disusun dalam pertemuan pendidikan global di Dakar, Senegal, tahun 2000.
Saat ini Indonesia masih tertinggal dari Brunei Darussalam yang berada di peringkat ke-34. Brunai Darussalam masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang, yang mencapai posisi nomor satu dunia.
Adapun Malaysia berada di peringkat ke-65 atau masih dalam kategori kelompok pencapaian medium seperti halnya Indonesia. Posisi Indonesia jauh lebih baik dari Filipina (85), Kamboja (102), India (107), dan Laos (109).
Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar (SD).
Penurunan EDI Indonesia yang cukup tinggi tahun ini terjadi terutama pada kategori penilaian angka bertahan siswa hingga kelas V SD. Kategori ini untuk menunjukkan kualitas pendidikan di jenjang pendidikan dasar yang siklusnya dipatok sedikitnya lima tahun.
Nahh seperti diatas lah berita yang saya kutip dari kompas.com, kembali ke topik pembicaraan..
Beberapa faktor penyebab masalah ini..
Pertama adalah generasi-generasi penerus bangsa itu sendiri. Hal ini menjadi faktor yang paling dominan. Karena, benih-benih yang lahir di tanah air tercinta kita inilah merupakan calon-calon penerus yang akan menggenggam nasib bangsa. Akankah ke masa depan yang positif, atau justru ke arah yang negatif. Itu semua tergantung kepada mereka.Nha, sekarang kita coba untuk introspeksi diri, apa yang sudah kita lalukan untuk bangsa ini. Lalu apa yang juga terjadi pada bangsa ini? Mengapa kita cenderung menjadi manusia yang konsumtif dalam kehidupan, mengapa kita tidak bisa seperti negara-negara maju seperti Jepang yang bertindak produktif. Sebagai contoh konkretnya, misalkan begini, anak sekolah dasar di Indonesia atau SD di ajari untuk menggunakan barang-barang elektronik seperti HP, game, dll. Berbeda dengan anak sekolah dasar di negara Jepang, dengan usia yang relatif muda, meraka sudah diajari merakit alat-alat atau barang elektronik seperti HP, game, dll. Berbanding terbalik bukan, dengan keadaan di negara kita ini. Apakah karena kita belum bisa di setarakan dengan negara-negara maju seperti Jepang? Negara maju, sedangkan kita adalah negara berkembang yang masih membutuhkan proses. Jelas hal itu bukan alasan yang tepat untuk kita tidak bisa berdiri sama tinggi, duduk  sama  rendah dengan mereka. Justru perbedaan tersebut seharusnya mampu memberi  energi besar kepada kita untuk membuktikan bahwa kita mampu bersaing dengan mereka.
Mayoritas generasi Indonesia memilki kebiasaan malas yang lama-lama menjadi karakter buruk. Malas memainkan otak untuk bersaing, malas berusaha menyesuaikan perkembangan zaman. Cenderung primitif, tidak tau dan memang tidak ingin tahu tentang perkembangan di era globalisasi. Yang dipikirkan hanya bagaimana cara memperkaya diri. Kalau itu memang yang telah terjadi, ya jelaslah pendidikan Indonesia dikategorikan sebagai negara yang pendidikannya rendah. Jika  kondisi seperti itu tidak diperbaiki, dan bangsa ini tidak segera melakukan revitalisasi pembangunan sektor pendidikan, republik yang sedang murung dan bersedih hati ini akan menghadapi risiko dan bencana kenamusiaan yang dahsyat, berupa tersungkurnya sebagian besar rakyat yang pernah dikandung dan dilahirkan ibu pertiwi ini ke dalam lembah keterbelakangan budaya, peradaban, teknologi, dan seni. Sebagian kecil dari bahaya dan risiko itu telah di ungkapkan oleh Sheridan (1999:39) dalam Suyanto, Dinamika pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar